Kembali ke Academy
Analisa Kualitatif untuk Memahami Aspek Bisnis Perusahaan

Analisa Kualitatif untuk Memahami Aspek Bisnis Perusahaan

Fundamental SahamBelajar Saham Pemula

Analisis Kualitatif

Seperti yang telah dijelaskan dalam bagian Investasi 101, salah satu langkah penting dalam berinvestasi adalah memahami aspek bisnis dari suatu perusahaan. Proses ini dikenal sebagai analisis kualitatif.

Berbeda dengan analisis kuantitatif yang didasarkan pada angka dan data yang dapat dihitung, analisis kualitatif lebih menekankan pada penilaian subjektif dari investor, yang sering kali disebut sebagai "edge" atau circle of competence (lingkar kompetensi).

Namun, Anda tidak perlu khawatir. Di Investhor, kami telah mengembangkan kerangka kerja yang dapat Anda gunakan sebagai pendekatan untuk memahami aspek bisnis dan melakukan analisis kualitatif terhadap suatu perusahaan.

Kerangka kerja ini mencakup tiga elemen utama yang akan kita analisa:

  1. Industri tempat perusahaan beroperasi
  2. Unfair advantage atau moat (keunggulan kompetitif) perusahaan
  3. Kualitas manajemen perusahaan

Analisis Industri

Dalam analisis industri, beberapa pertanyaan penting yang perlu dijawab meliputi:

  1. Bagaimana prospek industri ini? Apakah masih dalam tahap pertumbuhan (growing) atau sudah memasuki tahap penurunan (sunset)?
  2. Bagaimana tingkat persaingan di industri ini? Apakah masih kompetitif secara sehat atau sudah sangat ketat dan penuh tekanan (cut-throat)?
  3. Bagaimana siklus industri? Apakah bersifat siklikal (cyclical) atau tahan terhadap resesi (recession-resistant)?

Siklus Hidup Industri

Industri sering kali melewati beberapa tahap siklus hidup. Memahami siklus ini dapat membantu dalam menilai potensi pertumbuhan perusahaan. Berikut adalah tahapan utama dalam siklus hidup industri:

Introduction (Pengenalan):
Pada tahap ini, pertumbuhan penjualan bisa sangat tinggi jika produk diterima oleh pasar. Namun, jika produk tidak memiliki kesesuaian dengan pasar (market fit), penjualan bisa saja tidak berhasil. Perusahaan sering kali masih merugi di tahap ini dan memiliki risiko yang cukup tinggi.

Growth (Pertumbuhan):
Penjualan mulai tumbuh secara signifikan, dan risiko mulai berkurang dibandingkan tahap pengenalan. Produk telah diterima oleh pasar, namun perusahaan mungkin masih memerlukan ekspansi sehingga keuntungan bisa saja belum maksimal atau bahkan belum menghasilkan laba. Pada tahap ini, dividend payout mungkin rendah karena perusahaan masih membutuhkan pendanaan eksternal untuk membiayai ekspansi.

Maturity (Masa Matang):
Penjualan masih tumbuh, meskipun pada laju yang lebih lambat dibandingkan tahap pertumbuhan. Keuntungan perusahaan sudah cukup untuk membiayai ekspansi, dan perusahaan mulai mampu membagikan dividen. Risiko pada tahap ini relatif lebih rendah. Contoh perusahaan di tahap ini adalah TLKM dan BBCA.

Decline (Penurunan):
Permintaan terhadap produk mulai menurun, dan jika perusahaan tidak melakukan inovasi, penurunan ini bisa berlanjut. Penjualan bisa turun, dan risiko meningkat. Perusahaan sering kali melakukan diversifikasi bisnis untuk berusaha melakukan turnaround.

Persaingan Industri

Ada beberapa tipe struktur pasar berdasarkan tingkat persaingan:

Perfect Competition (Persaingan Sempurna):
Dalam pasar ini, terdapat ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Banyak produsen atau penjual dan pembeli, serta produk yang dihasilkan serupa.
  2. Tidak ada intervensi pemerintah, harga dan kuantitas ditentukan oleh mekanisme pasar (demand & supply):
    • Jika permintaan naik sementara penawaran tetap, harga akan naik.
    • Jika permintaan turun sementara penawaran naik, harga akan turun.
  3. Tidak ada hambatan masuk atau keluar (barrier to entry/exit).
  4. Perusahaan tidak dapat mengontrol harga, sehingga penjual dan pembeli adalah price taker, mengikuti harga pasar yang terbentuk. Risiko pasar ini tergolong tinggi.

Monopolistic Competition (Persaingan Monopolistik):

  1. Masih ada banyak penjual dan pembeli, tetapi persaingan tidak seketat pasar sempurna.
  2. Produk terdiferensiasi, yang memungkinkan penjual menciptakan keunggulan dibandingkan pesaingnya. Diferensiasi ini bisa berasal dari layanan, bentuk barang, atau pengemasan.
  3. Hambatan masuk dan keluar masih relatif rendah.
  4. Penjual mulai bisa mengontrol harga sesuai dengan keunggulan produknya. Contoh: minimarket, stasiun televisi. Risiko cenderung dapat diterima.

Oligopoly (Oligopoli):

  1. Hanya ada sedikit pemain besar (biasanya 1-3) yang menguasai pasar.
  2. Produk yang dihasilkan mungkin serupa, namun memiliki perbedaan tertentu.
  3. Ada hambatan masuk yang tinggi, seperti regulasi pemerintah atau teknologi yang sulit ditiru.
  4. Pemain besar memiliki kontrol yang signifikan terhadap harga, namun masih ada persaingan. Contoh: perusahaan pupuk, otomotif. Risiko di sini cenderung lebih ideal karena persaingannya sehat.

Monopoly (Monopoli):

  1. Pasar dikuasai oleh satu perusahaan tanpa kompetitor.
  2. Tidak ada barang substitusi yang mendekati.
  3. Terdapat hambatan masuk yang sangat tinggi, seperti undang-undang, teknologi, atau modal besar yang diperlukan.
  4. Perusahaan tunggal ini dapat sepenuhnya mengontrol harga. Risiko di pasar ini cenderung rendah karena minimnya persaingan.

Siklus Industri

Memahami siklus industri penting untuk mengikuti momentum pertumbuhan saham yang sesuai dengan kondisi ekonomi. Baik industri siklikal maupun tahan resesi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Keduanya memiliki momentum tersendiri kapan harus masuk atau keluar.

  • Industri Siklikal: Industri yang dipengaruhi oleh siklus ekonomi. Contohnya adalah CPO, batubara, pulp & paper. Investor perlu memahami faktor-faktor yang mempengaruhi harga komoditas tersebut untuk mengambil keputusan investasi yang tepat. Contoh lain adalah properti, yang sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi: ketika ekonomi melemah, industri properti juga akan melemah, dan sebaliknya.

  • Industri Tahan Resesi: Industri yang cenderung tidak terlalu dipengaruhi oleh siklus ekonomi, seperti perbankan, telekomunikasi, dan barang konsumsi (consumer goods). Industri ini lebih stabil, sehingga memungkinkan investor untuk masuk dan keluar kapan saja tanpa terlalu dipengaruhi oleh fluktuasi ekonomi.

Economic Moat / Keunggulan Kompetitif

Sebagai analogi, moat adalah seperti parit yang mengelilingi sebuah kastil untuk melindunginya dari serangan musuh. Semakin besar dan kuat parit tersebut, semakin sulit bagi musuh untuk menyerang kastil. Dalam konteks bisnis, economic moat adalah keunggulan kompetitif yang melindungi perusahaan dari pesaing, sehingga membuatnya lebih sulit diserang oleh kompetisi. Hal ini sering kali disebut sebagai unfair advantage.

Perusahaan yang tidak memiliki keunggulan kompetitif akan lebih rentan terhadap persaingan. Salah satu dampaknya bisa berupa perang harga, yang pada akhirnya dapat menekan margin keuntungan dan bahkan menyebabkan kerugian.

Economic moat mengacu pada kemampuan perusahaan untuk mempertahankan keunggulan kompetitifnya dalam jangka panjang, sehingga dapat melindungi laba dan pangsa pasarnya dari pesaing. Keunggulan kompetitif ini biasanya sulit diduplikasi oleh kompetitor, seperti merek yang kuat atau paten yang eksklusif, yang membuat pesaing sulit untuk bersaing secara langsung.

Cara Mendeteksi Economic Moat

Selain memahami bisnis inti perusahaan, economic moat juga dapat diidentifikasi melalui kondisi keuangan yang sehat. Berikut adalah beberapa ciri dari perusahaan yang memiliki economic moat yang kuat:

  1. Gross Profit Margin di atas 40% selama 5 tahun terakhir. Margin laba kotor yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kemampuan untuk menjual produknya dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan biaya produksinya, sebuah indikasi dari kekuatan harga (pricing power).

  2. Return on Equity (ROE) yang tinggi, setidaknya 10% selama 5 tahun terakhir. ROE yang tinggi menandakan perusahaan mampu menghasilkan keuntungan yang baik dari modal yang diinvestasikan oleh para pemegang saham.

  3. Free Cash Flow (FCF) yang konsisten positif selama setidaknya 5 tahun terakhir. FCF adalah indikator penting yang menunjukkan bahwa perusahaan memiliki uang tunai yang cukup setelah membayar pengeluaran operasional dan modal.

  4. Jenis-Jenis Economic Moat yang bisa dimiliki perusahaan:

    • Intangible Assets (Aset Tidak Berwujud):
      Aset ini mencakup merek yang kuat (brand equity) atau hak paten eksklusif.

      • Contoh: Perusahaan dengan brand equity yang kuat mampu menjual produk dengan harga lebih tinggi dibandingkan pesaingnya meskipun produknya serupa. Misalnya, perusahaan farmasi dengan hak paten untuk obat tertentu, atau Astra yang memiliki lisensi untuk menjual merek otomotif tertentu.
    • Network Effect (Efek Jaringan):
      Perusahaan yang memiliki jaringan distribusi yang luas, sehingga mampu mendistribusikan produk atau jasa secara lebih efisien. Semakin banyak pengguna atau pelanggan yang dimiliki perusahaan, semakin kuat posisi perusahaan dalam pasar.

      • Contoh: Indomaret dan Alfamart yang memiliki jaringan ritel luas, sehingga mudah mendistribusikan produk mereka di seluruh Indonesia.
    • Switching Costs (Biaya Beralih):
      Biaya atau kerugian yang harus ditanggung oleh konsumen ketika beralih ke produk atau jasa kompetitor. Semakin tinggi switching cost, semakin sulit bagi pelanggan untuk pindah ke pesaing.

      • Contoh: Biaya instalasi untuk beralih penyedia Wi-Fi, atau kerumitan administrasi saat nasabah bank ingin pindah ke bank lain.
    • Barrier to Entry (Hambatan Masuk):
      Hambatan yang diciptakan oleh perusahaan untuk mencegah kompetitor baru masuk ke industri. Ini bisa berupa regulasi pemerintah, teknologi yang sulit ditiru, atau kebutuhan modal yang sangat besar.

      • Contoh: Undang-undang yang melindungi posisi dominan perusahaan atau teknologi eksklusif yang sulit ditiru oleh pesaing baru.

Evaluasi Manajemen

Sebaik apapun kinerja suatu perusahaan, jika manajemennya tidak kompeten atau tidak jujur, perusahaan tersebut bisa mengalami kegagalan. Oleh karena itu, penting untuk melakukan evaluasi terhadap manajemen sebelum memutuskan berinvestasi. Sebagai investor, kita bisa menggunakan beberapa kerangka kerja untuk mengenali kualitas manajemen perusahaan.

  1. Latar Belakang Manajemen

    • Apakah anggota manajemen memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman yang sesuai dengan posisi dan industri tempat mereka bekerja? Informasi ini bisa ditemukan dalam laporan tahunan perusahaan atau melalui riset internet.
  2. Rekam Jejak Hukum

    • Pastikan manajemen memiliki rekam jejak hukum yang bersih. Carilah informasi mengenai kemungkinan keterlibatan mereka dalam kasus hukum, seperti korupsi, gratifikasi, atau masalah hukum lainnya. Ini bisa dilakukan dengan mencari informasi secara daring.
  3. Kepemilikan Saham oleh Pemegang Saham Pengendali (PSP)

    • Periksa apakah pemegang saham pengendali dan manajemen masih memegang atau bahkan menambah kepemilikan saham mereka di perusahaan. Jika mereka menambah porsi saham, ini dapat menjadi indikasi bahwa mereka yakin dengan prospek perusahaan. Namun, jika mereka justru menjual saham dalam jumlah besar, hal ini patut diwaspadai, karena bisa menjadi tanda bahwa mereka mulai kehilangan kepercayaan terhadap masa depan perusahaan.
  4. Transparansi Informasi

    • Perusahaan yang baik harus transparan dalam menyampaikan informasi terkait kinerja dan strategi bisnisnya. Salah satu cara untuk memeriksa transparansi perusahaan adalah melalui public expose atau pernyataan publik yang disampaikan secara terbuka kepada para pemegang saham dan publik.
  5. Aksi Korporasi

    • Tinjau kebijakan atau aksi korporasi yang dilakukan perusahaan. Aksi-aksi yang tidak lazim dan merugikan pemegang saham bisa menjadi tanda bahaya. Beberapa contoh aksi korporasi yang perlu diwaspadai antara lain:
      1. Debt to Equity Swap: Proses pertukaran utang dengan saham, yang bisa menjadi tanda bahwa perusahaan mengalami masalah struktur modal dan tidak mampu melunasi utangnya.
      2. Rights Issue: Penerbitan saham baru yang memberikan prioritas kepada pemegang saham lama untuk membeli saham tersebut. Perhatikan apakah tujuan dari rights issue jelas dan masuk akal, seperti untuk ekspansi. Jika tidak, bisa jadi perusahaan hanya mencari dana untuk melunasi utang, yang dapat merugikan investor.
      3. Reverse Stock Split: Penggabungan saham, misalnya ketika harga saham terlalu rendah (misalnya Rp50) dan kemudian dilakukan reverse stock split 1:5 sehingga harga saham menjadi Rp250 dengan jumlah lembar saham yang lebih sedikit. Ini dilakukan agar saham bisa diperdagangkan di harga yang lebih tinggi, namun perlu diperhatikan alasan di balik langkah ini.
      4. Transaksi Afiliasi: Transaksi yang melibatkan pihak-pihak terkait di dalam perusahaan, yang berpotensi disalahgunakan untuk kepentingan pribadi, sehingga perlu diawasi dengan ketat.
  6. Notasi Khusus dari BEI

    • Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan notasi khusus bagi perusahaan yang bermasalah. Perhatikan notasi ini sebagai peringatan dini terkait potensi risiko dari perusahaan yang sedang Anda analisis.