Investasi 101: Pengenalan Pasar Modal & Investasi Fundamental
Investing 101
Apa Itu Saham?
Sebelum membahas hal-hal teknis, mari kita mulai dari dasar: apa itu saham?
Secara sederhana, saham adalah bukti kepemilikan atas sebagian dari suatu perusahaan. Sebagai contoh, jika Anda membeli saham Bank BCA (kode saham: BBCA), meskipun hanya 1 lot (100 lembar saham), Anda secara teknis menjadi salah satu pemilik Bank BCA, meskipun porsi kepemilikan Anda sangat kecil.
Saham diterbitkan oleh perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT). PT sendiri terbagi menjadi dua jenis: PT Terbuka dan PT Tertutup. PT Terbuka adalah perusahaan yang sahamnya dapat dibeli oleh masyarakat umum melalui bursa efek, sedangkan PT Tertutup sahamnya hanya dimiliki oleh segelintir orang atau pihak tertentu. Oleh karena itu, pemegang saham PT Terbuka biasanya berjumlah banyak.
Perusahaan umumnya membutuhkan sumber dana untuk melakukan ekspansi, seperti membuka pabrik baru atau memperluas jaringan distribusi, selain dari laba bersih yang mereka peroleh setiap tahunnya. Sumber dana ini bisa didapatkan melalui pinjaman bank, penerbitan obligasi, atau menjual saham kepada publik melalui pasar modal.
Keuntungan menjadi pemegang saham bisa didapatkan dari dividen dan capital gain. Dividen adalah pembagian laba perusahaan kepada pemegang saham, sementara capital gain adalah keuntungan yang diperoleh dari kenaikan (apresiasi) harga saham.
Contoh Dividen:
Pada tahun 2024, sebuah perusahaan memperoleh laba bersih sebesar Rp1 miliar, dengan jumlah saham beredar sebanyak 10 lembar, dan Anda memiliki 1 lembar saham. Jika dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) disepakati untuk membagikan 50% dari laba bersih sebagai dividen, maka Anda akan mendapatkan dividen sebesar:
- Total Dividen= 50% × Rp1 miliar = Rp500 juta
- Dividen per Lembar Saham= Rp500 juta / 10 lembar = Rp50 juta
- Dividen yang Anda Terima= 1 lembar × Rp50 juta = Rp50 juta
Contoh Capital Gain:
Pada tahun 2020, Anda membeli saham perusahaan X sebanyak 2 lot (200 lembar) dengan harga Rp100 per lembar. Pada tahun 2022, harga saham per lembar naik menjadi Rp150. Maka, keuntungan Anda adalah:
- Modal= 200 lembar × Rp100 = Rp20.000
- Nilai Saat Ini= 200 lembar × Rp150 = Rp30.000
- Keuntungan= Rp30.000 - Rp20.000 = Rp10.000
Investasi Jangka Panjang & Analisa Fundamental
Di pasar modal, terdapat dua pendekatan utama: investor dan trader. Secara umum, investor adalah mereka yang melakukan investasi jangka panjang, sedangkan trader adalah mereka yang melakukan jual beli saham dalam jangka waktu singkat, mulai dari hitungan menit hingga beberapa bulan. Kedua gaya ini memiliki keunggulannya masing-masing; pilihan terbaik tergantung pada preferensi dan tujuan Anda.
Dalam buku ini, saya akan lebih fokus pada investasi jangka panjang. Pendekatan ini tidak memerlukan banyak waktu dan tenaga karena Anda hanya perlu melakukan tinjauan secara berkala, seperti bulanan. Hal ini sangat cocok bagi saya yang memiliki keterbatasan waktu.
Mengutip kata-kata bijak dari Benjamin Graham dan Warren Buffett:
"In the short run, the market is a voting machine, but in the long run, it’s a weighing machine."
Kurang lebih artinya: Dalam jangka pendek, pasar modal berperan sebagai mesin voting di mana harga saham ditentukan oleh persepsi dan sentimen investor. Namun, dalam jangka panjang, pasar bertindak sebagai timbangan yang mencerminkan performa fundamental perusahaan, di mana harga saham akan menyesuaikan dengan kinerja perusahaan itu sendiri.
Berdasarkan prinsip ini, trader memanfaatkan fluktuasi jangka pendek dengan menggunakan analisis teknikal (seperti grafik harga dan indikator teknikal) serta pendekatan bandarmology (yang sering kali melibatkan analisis bid-offer) untuk memperkirakan pergerakan harga saham dalam waktu dekat.
Sebaliknya, seorang investor memanfaatkan "waktu" dengan berinvestasi jangka panjang dan fokus pada analisa fundamental. Hal ini karena dalam jangka panjang, harga saham akan cenderung mengikuti kinerja fundamental perusahaan.
Analisa Fundamental
Analisa fundamental adalah pendekatan untuk memahami kondisi perusahaan secara menyeluruh. Ini melibatkan evaluasi laporan keuangan, prospek masa depan perusahaan, kondisi sektor industri, tingkat persaingan, dan faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi kesehatan dan potensi pertumbuhan perusahaan.
Aspek yang Perlu Diperhatikan dalam Investasi Fundamental
Dalam berinvestasi menggunakan pendekatan fundamental, terdapat beberapa aspek penting yang perlu dianalisis:
1. Aspek Bisnis
Sebelum berinvestasi, kita harus memahami bisnis dari perusahaan yang akan kita investasikan. Setidaknya, kita perlu bisa menjawab beberapa pertanyaan dasar, seperti: di sektor apa perusahaan ini beroperasi? Apa yang mempengaruhi profitabilitas perusahaan? Bagaimana posisi perusahaan dalam persaingan? Bagaimana perusahaan mencetak laba, dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya?
Memahami seluk-beluk bisnis perusahaan sangatlah menguntungkan. Warren Buffett menyebut hal ini sebagai "circle of competence," sementara Peter Lynch menyebutnya sebagai "edge." Misalnya, seseorang yang bekerja di sektor batu bara atau memiliki bisnis di industri tersebut tentu lebih memahami kondisi pasar batu bara, termasuk apakah harga komoditas batu bara sedang tinggi atau rendah di pasar global, dan dapat memanfaatkan pengetahuan ini untuk berinvestasi dengan lebih bijak.
2. Aspek Manajemen
Selain model bisnis yang baik, manajemen yang kompeten dan jujur juga merupakan faktor krusial dalam memilih perusahaan untuk diinvestasikan. Meski sebuah perusahaan memiliki model bisnis yang kuat, manajemen yang buruk dapat merusak kinerja perusahaan. Oleh karena itu, penting untuk menganalisis direksi dan komisaris perusahaan satu per satu. Cara termudah adalah dengan mencari nama mereka di Google untuk melihat apakah mereka pernah terlibat dalam kasus yang mencurigakan atau pernah dipecat.
Selain itu, menghadiri Public Expose perusahaan dapat memberikan wawasan langsung tentang bagaimana direksi mempresentasikan rencana perusahaan. Anda juga bisa menilai kejujuran dan kompetensi mereka dari cara mereka berbicara dan merespons pertanyaan. Membaca laporan hasil Public Expose atau laporan tahunan juga membantu dalam memahami apakah rencana manajemen sesuai dengan kenyataan yang ada. Manajemen yang baik adalah mereka yang dapat menepati atau melampaui janjinya. Kita ingin berinvestasi di perusahaan yang memiliki manajemen yang mampu memberikan estimasi yang realistis dan merealisasikannya dengan baik.
Jika memungkinkan, Anda juga bisa menghubungi teman atau kenalan yang bekerja di perusahaan tersebut untuk mendapatkan informasi tambahan tentang kondisi internal perusahaan.
3. Aspek Finansial
Aspek finansial dapat dianalisis dari laporan keuangan perusahaan. Hal ini mencakup performa keuangan, seperti pendapatan, laba bersih, dan marjin perusahaan—apakah ada peningkatan dari tahun ke tahun dan apakah tingkatannya cukup tinggi?
Selain itu, penting untuk menilai kesehatan keuangan perusahaan secara keseluruhan, termasuk struktur modalnya. Apakah perusahaan memiliki rasio utang yang sehat, atau apakah kondisinya cenderung mengarah pada kebangkrutan?
Aspek ini akan dibahas lebih mendalam di bab selanjutnya, di mana kita akan membedah laporan keuangan perusahaan untuk menemukan perusahaan yang sehat, dengan pertumbuhan yang baik, dan layak untuk diinvestasikan.
4. Aspek Nilai
Setelah menemukan perusahaan dengan kondisi keuangan dan performa yang sangat baik, langkah berikutnya adalah mempertimbangkan valuasi perusahaan tersebut. Harga saham yang ditawarkan oleh pasar tidak selalu mencerminkan nilai intrinsik perusahaan. Terkadang, pasar menilai saham terlalu tinggi (overvalued), yang dapat meningkatkan risiko jika kita berinvestasi di perusahaan tersebut. Namun, ada kalanya pasar menilai perusahaan yang sangat baik dengan harga yang terlalu rendah (undervalued), dan inilah kesempatan bagi kita sebagai investor.
Mengutip Warren Buffett:
"It's far better to buy a wonderful company at a fair price than a fair company at a wonderful price."
Kutipan ini berarti bahwa lebih baik membeli perusahaan yang luar biasa dengan harga yang wajar daripada membeli perusahaan yang biasa saja dengan harga yang sangat murah. Oleh karena itu, sebelum melakukan valuasi, pastikan terlebih dahulu bahwa perusahaan tersebut adalah perusahaan yang luar biasa (wonderful).
Membeli saham sebenarnya mirip dengan membeli barang, tetapi ada fenomena unik di pasar saham: orang cenderung membeli saat harga tinggi dan berharap harga akan terus naik, sementara ketika harga turun dan memberikan diskon besar, orang justru takut membeli karena khawatir harga akan turun lebih jauh.
Padahal, seperti saat kita berbelanja, kita seharusnya mencari dan membandingkan harga, serta berharap mendapatkan diskon yang lebih tinggi. Dalam investasi saham, ini dikenal sebagaimargin of safety, yaitu selisih antara nilai wajar dan harga pasar saat ini. Semakin besar margin of safety, semakin baik untuk kita sebagai investor.
Contoh Perhitungan:
Jika nilai wajar menurut perhitungan kita adalah Rp1.000 per saham, dan harga pasar saat ini adalah Rp500, maka perusahaan tersebut sedang terdiskon sebesar 50%.
Secara umum, margin of safety yang diinginkan adalah setidaknya 30%, dan untuk perusahaan yang lebih fluktuatif, margin of safety sebesar 50% lebih diinginkan. Semakin besar margin of safety, semakin baik.
Di bab selanjutnya, kita akan membahas berbagai teknik valuasi dan perhitungan yang lebih mendalam.