Memahami Return on Equity (ROE) dengan Dupont Analysis
Memahami Return on Equity (ROE) dengan Dupont Analysis
Sebelumnya, kita telah mempelajari bahwa salah satu indikator penting dari saham yang baik adalah perusahaan yang memiliki Return on Equity (ROE) minimal sebesar 15%. Namun, apakah ini cukup untuk menilai kualitas suatu saham? Sayangnya, tidak sesederhana itu.
Umumnya, perhitungan ROE dirumuskan sebagai berikut:
Return on Equity (ROE) = Laba Bersih / Ekuitas Pemilik
Namun, kita dapat memecah komponen-komponen ROE untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang apakah ROE yang tinggi merupakan sinyal positif atau justru sebaliknya.
Pendekatan ini dikenal sebagai Dupont Analysis, yang sering digunakan oleh institusi keuangan untuk memahami komponen pembentuk ROE.
Ilustrasi Dupont Analysis
Dari ilustrasi tersebut, kita dapat melihat bahwa ROE adalah hasil perkalian dari Return on Assets (ROA) dengan Leverage (dikenal juga sebagai equity multiplier atau EM). Artinya, ROE bisa menjadi besar jika leverage tinggi, meskipun ROA rendah. Namun, yang kita inginkan adalah ROE yang tinggi karena ROA yang kuat, sementara leverage (utang) tetap rendah.
Mari kita bahas komponen-komponen ini satu per satu.
1. Return on Equity (ROE)
- Perusahaan yang baik biasanya memiliki ROE minimal 15% atau mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
- ROE yang tinggi lebih baik jika disebabkan oleh ROA yang tinggi, bukan karena leverage yang besar.
- Rumus dasar ROE adalah:
ROE = Laba Bersih / Ekuitas Pemilik
atau
ROE = ROA × Leverage (EM)
2. Leverage (Equity Multiplier)
- Leverage, atau equity multiplier, adalah ukuran utang perusahaan.
- Semakin rendah leverage, semakin baik, karena ini berarti perusahaan tidak terlalu bergantung pada utang.
- Rumus leverage:
Leverage = Total Aset / Ekuitas Pemilik
3. Return on Assets (ROA)
- ROA dihitung sebagai hasil dari Net Profit Margin (NPM) dan Total Asset Turnover (TATO).
- Semakin tinggi ROA, semakin efisien perusahaan dalam mengelola asetnya.
- Rumus ROA:
ROA = Laba Bersih / Total Aset
atau
ROA = NPM × TATO
4. Total Asset Turnover (TATO)
- TATO menunjukkan seberapa efisien aset perusahaan digunakan untuk menghasilkan pendapatan.
- Semakin tinggi TATO, semakin baik.
- Rumus TATO:
TATO = Pendapatan / Total Aset
5. Net Profit Margin (NPM)
- NPM mengukur seberapa besar marjin laba bersih yang dihasilkan oleh perusahaan dari pendapatannya.
- Kita menginginkan NPM yang tinggi, terutama jika berasal dari Operating Profit Margin (OPM) yang kuat, bukan dari pendapatan lain-lain yang bersifat sementara.
- Rumus NPM:
NPM = OPM × Other Burden
atau
NPM = Laba Bersih / Pendapatan
Umumnya, ada hubungan terbalik antara NPM dan TATO. Jika NPM tinggi, biasanya TATO rendah, dan sebaliknya. Misalnya, perusahaan yang menjual barang mahal dengan marjin tinggi, seperti properti, cenderung memiliki TATO rendah, sedangkan perusahaan dengan barang murah dengan marjin rendah dan volume penjualan tinggi, seperti FMCG, cenderung memiliki TATO tinggi.
Namun, jika berhasil menemukan perusahaan yang memiliki NPM tinggi dan TATO tinggi bisa jadi merupakan perusahaan yang sangat bagus
6. Operating Profit Margin (OPM)
- OPM mengukur marjin laba operasional. Semakin tinggi OPM, semakin baik.
- Rumus OPM:
OPM = Laba Usaha / Pendapatan
7. Other Burden
- Other Burden adalah beban lain-lain yang mempengaruhi NPM. Rasio idealnya berkisar antara 65%-75%.
- Jika rasio ini terlalu rendah, bisa jadi perusahaan memiliki banyak beban keuangan. Jika terlalu tinggi, mungkin ada pendapatan lain-lain yang tidak berkelanjutan, sehingga perlu dievaluasi secara historis.
- Rumus Other Burden:
Other Burden = Laba Bersih / Laba Usaha
Untuk memudahkan perhitungan dan analisis dengan Dupont Analysis, Anda bisa menggunakan aplikasi seperti Investhor. Aplikasi ini menyediakan breakdown historis secara lengkap, yang mempermudah Anda dalam menganalisis kinerja saham.