Ekuitas Negatif Terus, Rugi Besar, Tapi Arus Kas Operasi Positif
Kinerja Keuangan: Rugi Terus Menerus
Perusahaan ini sudah 16 kali berturut-turut rugi sejak 2015. Di kuartal terakhir 2025, rugi bersih Rp 1,29 triliun meski pendapatan masih besar sekitar Rp 7,87 triliun. Laba usaha juga negatif Rp 644 miliar, artinya bisnis intinya tidak menghasilkan untung.
Pendapatan sempat naik tinggi di awal 2025 (Rp 8,19 triliun) tapi sekarang turun lagi. Secara tahunan, perusahaan ini belum pernah bisa balik untung sejak 8 tahun lalu.
Kondisi Keuangan: Utang Tinggi, Ekuitas Negatif
Ini yang paling mengkhawatirkan: ekuitas sudah minus Rp 10,7 triliun dan sudah negatif sejak 2018. Artinya, dari sudut pandang akuntansi, perusahaan sudah teknikal bangkrut.
Utang masih tinggi di Rp 11,2 triliun, tapi ada sedikit perbaikan karena mulai dibayar. Masalahnya:
- Current ratio cuma 0,04x (sangat rendah, hampir tidak punya uang untuk bayar utang jangka pendek)
- Cash ratio 0,003x (hampir tidak ada uang tunai)
- Tidak bisa bayar bunga utang (interest coverage minus 1,47x)
Valuasi: Tidak Ada Artinya
Karena terus rugi dan ekuitas negatif, valuasi menjadi tidak relevan:
- PER -0,73x (negatif karena rugi)
- PBV -0,09x (negatif karena ekuitas minus)
- Semua model valuasi menghasilkan nilai negatif
Keuntungan dan Risiko
Kekuatan terbatas:
- Arus kas operasi positif Rp 867 miliar di Q4 2025 (tanda sedikit perbaikan)
- Pendapatan masih besar (Rp 7-8 triliun/triwulan)
- Masih beroperasi meski dalam kesulitan
Risiko utama:
- Teknis bangkrut (ekuitas negatif 8 tahun)
- Bisnis inti tidak untung (laba usaha negatif)
- Krisis likuiditas (hampir tidak punya uang tunai)
- Utang tinggi dan tidak bisa bayar bunga
Kesimpulan
CMPP dalam kondisi financial distress atau kesulitan keuangan serius. Hanya cocok untuk investor sangat agresif yang yakin perusahaan bisa turnaround. Risikonya sangat tinggi. Bagi kebanyakan investor, lebih baik hindari sampai ada tanda-tanda perbaikan yang jelas seperti ekuitas positif dan laba bersih untung.