Kerugian Bertumpuk & Utang Meningkat, Risiko Likuiditas Menghantui KICI
Kinerja Fundamental: Tren Negatif Menguat
KICI mencatat kerugian bersih 7 quarter berturut-turut. Di Q3 2025, rugi mencapai Rp9,4 triliun dengan pendapatan turun 32% dari puncak 2021 (dari Rp118T menjadi Rp80T). Margin laba kotor runtuh dari 35% menjadi 11%, menunjukkan tekanan harga jual dan biaya produksi yang parah.
Kondisi Keuangan: Alarm Merah
- Utang melonjak: DER naik dari 0,07x (2021) ke 0,16x (2025), total kewajiban kini Rp100,38T hampir menyamai ekuitas Rp97,03T
- Arus kas negatif: Operasional menghabiskan Rp7,94T kas di Q3 2025, forcing perusahaan cari pinjaman baru
- Likuiditas menyusut: Cash ratio terjun ke 0,02x, sangat berbahaya jika kreditur menarik fasilitas
Valuasi: Murah Tapi Tidak Menarik
PBV 0,41x (vs rata-rata 0,7x) tampil murah, tapi PER negatif (-5,2x) tak bermakna saat perusahaan merugi. Valuasi rendah tidak menutup risiko kebangkrutan.
Kekuatan & Risiko
Kekuatan: Merek establis di industri porselen Indonesia, infrastruktur produksi masih ada.
Risiko Kritis:
- Spiral utang: Pinjam untuk bayar operasional
- Quarters merugi berkepanjangan
- Sektor properti lesu, permintaan lemah
- Tidak pernah bagi dividen 5 tahun terakhir
Kesimpulan
KICI adalah saham spekulatif berisiko tinggi. Hanya untuk investor yang sanggup kehilangan seluruh modal, berharap turnaround atau akuisisi. Investor konservatif sebaiknya hindari sampai ada pemulihan laba yang jelas dan konsisten.